Senin, 08 Februari 2010

Five Minds for The Future



Meneropong masa depan berawal dari membangun pola pikir. Ada banyak hal, termasuk tantangan, pilihan dan menentukan arah sesuai keinginan melihat masa depan. Pakar psikologi Howard Gardner menuangkan ide dalam bukunya ‘Five Mind for the Future’. Ini soal teori kecerdasan majemuk yang dia paparkan melalui serangkain riset. Ada lima hal menjadi pertimbangan.

Pertama, mulai dari pikiran yang disiplin. Artinya berangkat dari suatu perilaku yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan dan tentu soal profesi. Sebut saja ketika seorang praktisi terlibat dalam dunia bisnis dan manajemen, maka menguasai ilmu dalam bidang tersebut merupakan hal penting menjadi pekerja profesional.

Kedua, pikiran yang dapat menyerap berbagai informasi dari beragam sumber. Kemudian memahami dan meraciknya menjadi suatu pengetahuan yang baru. Inilah sintesa penting ketika banjir informasi mengalir. Tanpa bisa melihat perioritas informasi yang menjadi kebutuhan, maka akan tenggelam dan tergelincir dalam lautan informasi.

Ketiga, pikiran yang mencoba membentangkan pertanyaan tak terduga, termasuk memaparkan cara berpikir baru. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna.

Empat, pola pikir menyambut perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati.

Dan pola pikir yang terakhir adalah etis. pola pikir menyambut perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati.

Howard Gardner dalam bukunya “Five Minds for The Future” menyatakan ada lima tingkatan kecerdasan, yaitu :
1. Discipline Mind, dimana seseorang mempunyai pola berpikir minimal tentang satu disiplin atau pengetahuan.
2. Synthesizing Mind, yaitu kecerdasan untuk menggabungkan dan mengubungkan beberapa disiplin sehingga dapat tercipta pengetahuan yang baru.
3. Creative Mind, merupakan kecerdasan dalam mencipta sesuatu atau penciiptaan tools baru dalam melakukan pekerjaan.
4. Respectful Mind, berupa pikiran yang mampu menghargai perbedaan dan bagaimana dirinya bisa produktif di lingkungan yang benyak perbedaan.
5. Ethical Mind, sebagai tingkat kecerdasan tertinggi dimana seseorang bisa membedakan dan memilih sesuatu di luar kepentingannya. Kecerdasan ini lebih mendahulukan kepentingan masyarakat dan memahami pembatas-pembatas dalam masyarakat.
Pencapain tingkat kecerdasan dipengaruhi oleh usia, pengalaman dan pendidikan. Pada masa anak-anak, seseorang biasanya masih berada pada tingkatan yang pertama. Tingkatan yang keempat memegang peranan penting dalam perkembangan moral manusia, karena jika seseorang mampu memberikan penghargaan atau apresiasi kepada orang lain maka ia memahami lingkungannya. Pada akhirnya, dengan etika yang baik dan dijunjung tinggi, sesseorang atau organisasi akan lebih kuat dan terpercaya.
Namun, selalu ada kebalikan dari sesuatu yang baik. Apabila seseorang yang mempunyai kecerdasan akan selalu menjaga etikanya, maka yang sebalikanya akan berusaha untuk melanggarnya. Etika berkaitan erat dengan ajaran mengenai moral. Mengapa seseorang terdorong untuk melakukan pelanggaran etika? Beberapa hal yang menjadi penyebabnya adalah keinginan dan upaya sangat kuat untuk memenangkan kompetisi dan penyelewengan atau penyalahgunaan kepercayaan. Orang-orang seperti ini bisa dikatakan sebagai orang yang tidak mempunyai kecerdasan.
Kembali kepada hakikat kita sebagai makhluk, dalam Al-Qur'an telah disebutkan bahwa kita dikaruniai akal oleh Allah. Silahkan introspeksi diri kita, seberapa jauh kita memanfaatkan akal kita untuk kebaikan dan kesejahteraan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar